Saya bukanlah orang yang pandai menulis sesuatu, menulis hanya saya jadikan sebagai kegiatan iseng disela aktifitas kuliah saya yang kadang terlalu membuat saya penat. Hari ini saya ingin menuliskan tentang ‘masih dirasa begitu mahalkan biaya kesehatan’. Saya seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang, kebetulan jurusan yang saya ambil adalah kesehatan masyarakat. Sebelum saya memulai tulisan saya, terlebih dahulu saya perkenalkan jurusan yang saya ambil.
Kesehatan masyarakat ??Masih begitu asingkah jurusan tersebut
untuk kalian ??Seringkali saya jumpai orang, dimanapun itu, entah bis ataupun
tempat umum, ketika mereka menanyakan ‘kuliah jurusan apa mb ??’, kemudian saya
jawab ‘kesmas ( kesehatan masyarakat ) pak/bu/mas/mb..’, kebanyakan dari mereka
akan meneruskan dengan kata – kata ‘ oohh..jadi dokter yaa…??’.
Kesehatan Masyarakat berbeda dengan dokter, bidan, perawat,
ahli gizi ataupun analis kesehatan. Cara gampangnya adalah, kami para calon
S.KM – Sarjana Kesehatan Masyarakat ( Amin…. J ) menjaga agar para masyarakat yang
masih sehat agar tidak sakit, dan mereka yang telah sembuh dari sakit tidak
jatuh sakit kembali. Meski sakit kadang tidak bisa dihindari, tapi paling tidak
mengurangi frekuensi atau intensitas akan sakit. Itu cara kasar ketika saya
harus menjelaskan secara singkat kepada orang yang saya temui. Jadi, peran kami
disini jelas berbeda dengan dokter, dokter lebih ke tindakan kuratif dan
rehabilitative , atau lebih kami kenal dengan sebutan pengobatan dan pemulihan,
sedangkan kami lebih kepada tindakan preventif dan promotif, atau yang lebih
dikenal dengan pencegahan dan promosi, promosi agar masyarakat tetap menjaga
kesehatan, karena bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati ?
Lebih luas sebenarnya apa itu kesehatan masyarakat, karena
kami pun mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah dijurusan tersebut, akan dibagi
lagi menjadi berbagai sub bidang ilmu, mungkin kalo dalam ilmu kedokteran
seperti spesialis kali yaa. Ada sub bidang ilmu, epidemiologi, biostatistika,
administrasi kebijakan kesehatan, promosi kesehatan, kesehatan lingsayangan,
kesehatan kerja, dan satu lagi saya lupa :D:D, I’m so sorry .
Cukup saya perkenalkan sekilas tentang apa itu kesehatan
masyarakat, lain kali akan saya jelaskan lebih panjang lagi dan lebih rinci.
Sekarangg balik ke judul kami lagi tentang ‘masih dirasa begitu mahalkan biaya
kesehatan’
Tepat seminggu yang lalu, tetangga rumah meninggal dunia.
Seorang ibu dengan usia sekitar 40 tahun, sudah hampir 1 tahun mungkin, ibu
tersebut terbaring ditempat tidur dan hampir setengah tahun melakukan segala
aktifitasnya di atas ranjang. Padahal masih belum terlalu tua untuk ukuran dia
harus melakukan segala aktifitas di atas ranjang. Kabar yang ada di tempat saya
adalah si ibu menderita stroke ringan awalnya sampai akhirnya stroke berat.
Ketika pulang kemarin, saya iseng bertanya pada ibu saya, tentang penanganan
atau pengobatan yang dilakukan oleh keluarga si ibu itu. Yaa, seperti biasa
hampir setiap hal yang terjadi dirumah pasti saya tanyakan pada ibu saya, ibu saya
adalah sumber informasi saya tentang semua keadaan di rumah :D.
Dan keterangan yang saya dapat, ternyata sampai si ibu meninggal
dunia, dia belum pernah diperiksakan ke pelayanan kesehatan. Keluarganya lebih
suka membawanya ke pengobatan herbal ataupun semacam orang pintar. Ya, des saya
memang sudah tidak masuk kategori primitive, tapi sebagian masih menganggap
bahwa suatu penyakit ada hubunganya dengan unsur magic. Hampir setiap hal
janggal selalu dikaitkan dengan magic. Kadang keluarga juga membawa si ibu ke
tukang pijat, dan konon katanya keadaan ibu makin parah ketika si ibu di pijat
untuk yang kedua kalinya. Entahlah, saya belum mengerti korelasi tukang pijat
dengan kejadian stroke disini. Padahal, keluarga tersebut cukup mampu
sebenarnya untuk membawa si ibu ke pelayanan kesehatan. Tapi, ada alasan apa
dibalik itu saya juga tidak tahu dan sepertinya bukan wewenang saya untuk tahu.
Ketika mendengar cerita itu, satu yang ada dalam pikiran saya
adalah ‘masih begitu mahalkah biaya kesehatan’. Sampai – sampai seorang ibu
dibiarkan terbaring dan diobati ‘seadanya’.
Miris memang ketika mendengar itu semua, tapi sejauh ini
belum ada yang bisa saya lakukan. Semoga 4 atau 5 tahun lagi ada hal yang bisa
saya lakukan untuk mengubah paradigma masyarakat ‘bahwa ketika biaya kesehatan
dirasa mahal, mari kita terapkan azaz mencegah lebih baik daripada mengobati’
-salam-














