Masih ingat betul aku bagaimana kita berjumpa dulu, pertemuan yang amat singkat tapi meninggalkan arti untukku. Pagi itu kau mengunjungi rumah saudaramu, dan disanalah kita bertemu. Aku yang masih asik memainkan hape tak terlalu mempedulikan kehadiranmu waktu itu, karena ku pikir, bukan denganku kau berkepentingan. Sampai akhirnya kau mengulurkan tangan mengajakku berjabat tangan. Tak ada kata perkenalan waktu, karena secara tidak langsung aku telah mengenalmu, mengenalmu sebagai salah satu dari saudaraku.
Sampai hari itu berakhir, dan tak pernah ada lagi perjumpaan
setelah itu, bahkan tanpa sapaan sedikitpun, seperti halnya menanyakan kabar
pada saudara.
Tujuh bulan setelah kunjungan itu, aku melihat nick mu di
sebuah jejaring sosial, karena aku merasa saudaramu maka penting bagiku untuk
sekedar mengirim permintaan pertemanan. Tak ada maksud apapun waktu itu, hanya
sekedar ingin menyambung tali silaturahmi dengan 'saudara'. Bahkan setelah kau
mengiyakan permintaan pertemananku tak ada pesan tanda terimakasih ataupun
sekedar menyapa. Never mind...
Suatu saat ketika ku posting di jejaring sosial, dan kau
berkomentar pada posting ku itu, disinilah semua dimulai. Makin hari, makin
intensif kau menanyakan kabarku meski hanya via dunia maya, karena waktu itu nomer
hape belum sama - sama kita miliki.
Setiap posting yang kurikim pasti selalu ada namamu di list
komentar, awalnya aku masih menganggap biasa, kau berkomentar dan aku membalas,
sama seperti yang aku lakukan pada komentar - komentar lain yang mampir dipostingku.
Dan tanpa ku sadari aku juga makin intensif berkomentar pada posting yang kau
kirim di jejaring sosial. Hingga suatu saat ketika dalam beberapa waktu kau
tidak muncul, dan aku mulai merindukan komentar - komentarmu yang slalu kau
selipkan canda di dalamnya.
Pelan tapi pasti kurasakan makin ada yang aneh ketika dalam
beberapa waktu kau menghilang, dan itu membuatku sedikit merasa kehilangan.
Mungkin tanpa kita sadari candaan menghinbur yang slalu kita selipkan didalam
komentar kita membuat kita merindukan satu sama lain. Makin hari makin ku
rasakan rindu itu, sampai puncaknya aku ingin bertemu denganmu untuk sekedar
mengobrol tentang hal yang sering kita perbincangkan di dunia maya.
Senyum simpul selalu ada di sudut bibirku ketika aku membaca
satu per satu posting yang ada namamu dalam posting itu. Iyaa, satu persatu
dari awal komentarmu bahkan. Aku sering melakukan hal itu ketika aku merasa
benar - benar merindukan saat awal kita bertegur sapa. Meski mungkin sampai
saat ini kau tak pernah menyadari hal itu, bahwa aku telah lama merindukanmu.
Khayal yang makin hari makin melambung, dan ketika waktu itu
datang, persis seperti yang pernah ku khayalkan, mengobrol denganmu, bercanda,
dan sekedar melepas rasa rindu menumpuk yang diam - diam ku simpan untukmu.
Meski tak pernah terucap saat itu.
Kadang aku aneh dengan diriku sendiri, kenapa aku bisa
begitu galau ketika kau tidak menyapaku, ketika kau tidak mengunjungiku, ketika
kau tidak mengajakku pergi, dan malah kau memilih untuk pergi tanpa berkawan.
Padahal saat itu aku bukan siapa - siapa, dan aku yakin kau juga hanya
menganggapku sebagai saudara saat itu, karena waktu itu kau masih berdua.
Mungkin sampai saat ini kaupun tidak pernah tau, betapa dulu
aku suka diam - diam menumpuk rindu untukmu. Berharap kau juga melakukan hal
yang sama yang aku lakukan padamu. Tapi saat itu aku sadar betul, semua yang
kulakukan hanya sebelah tangan, karena tidak mungkin kau menganggapku lebih
dari sekedar saudara. Dan kau tetap saudaraku yang tersayang :)
-salam-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar