Sudah hampir sebulan ini kau tak pernah menyapaku via sms,
bahkan sudah hampir dua bulan kau tak menelfonku. Padahal dulu, menelfon adalah
hal yang hampir tiap malam kau lakukan, setelah lelah beraktifiitas seharian
selalu kau sempatkan waktumu walau hanya satu jam dalam sehari sekedar untuk
mengobrol denganku, meski hanya via telfon.
Dan kini hampir dua bulan aku tak mendengar suaramu, bukan
aku tak ingin mendengar suaramu, bukan juga karena aku tak ingin sekedar
mengirim pesan singkat untukmu, menanyakan apakah kamu sehat ?ada apa tentang
hari ini ?atau sudahkah kau makan ?hal yang sama yang ku lakukan sekitar lima
bulan lalu. Tapi aku memang aku mencoba untuk menepis semua keinginan itu saat
ini.
Hal yang sudah kucoba sejak tiga bulan lalu, mencoba
terbiasa tanpa pesan selamat pagi darimu, tanpa pesan 'jangan lupa makan
siang', tanpa pesan 'pulang kuliah jam berapa ?', tanpa pesan 'selamat
istirahat, kalau belum ngantuk sms aja' dan juga mecoba terbiasa tidak mendapat
telfonmu tiap malam. Dimana sering aku tinggal tidur ketika kau menelfonku,
ketika aku minta kau menceritakan tentang harimu, tapi malah aku tidur tanpa
pamit. Ketika kau membacakan pesan broadcast yang baru kau dapat dan seperti
biasa dengan setengah sadar aku mengatakan 'aku ngantuk..' dan sejenak kau
berhenti lalu berkata 'yaudah, selamat istarahat, besok kuliah pagi kan ?'.
Tanpa sedikitpun nada marah darimu, dan hampir setiap malam hal itu terulang,
tapi tetap kau menganggap itu sebagai sebuah maklum.
Sungguh aku sangat merindukan saat - saat itu. Aku tak
menghubungimu akhir - akhir ini memang, tapi bukan berarti aku tak
merindukkanmu. Karena aku tahu, merindukanmu adalah hal yang salah, hal
yang tidak seharusnya ku lakukan, bahkan kita sudah pernah membahas hal itu jauh
hari sebelum akhirnya kita memutuskan untuk bersama. Tapi, logika kita kalah
ketika perasaan mengusai segalanya, logika kita tak cukup berdaya untuk
berpikir bahwa meneruskan kebersamaan ini adalah hal sia - sia, hal percuma
yang hanya akan menyakiti satu sama lain pada akhirnya. Tapi, sekali lagi
logika kita terlalu lemah untuk bisa berpikir hal demikian pada saat itu.
Dan yang aku khawatirkan pun terjadi kini, kau memutuskan
untuk mengakhiri semuanya, pelan tapi pasti kau mulai jarang menghubungi,
jarang menelfonku, sampai akhirnya akupun lelah berusaha untuk tetap
meyakinkanmu. Saat itu bahkan sekarang masih banyak pertanyaan di otakku, apa
yang selama ini kau katakan benar - benar serius ?Apa alasan yang membuatmu
mengambil keputusan ini benar ?Atau kau selama ini hanya ingin 'bermain-main'
denganku ?
Entah kapan semua pertanyaaku dapat terjawab, atau mungkin
takkan pernah bisa kau jawab. Baik -baik kamu disana kakakku, jaga
kesehatan, semoga slalu dalam lindungan Tuhan :)
-salam-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar