Senin, 18 Juni 2012

bukan aku tak merindukanmu ...


Sudah hampir sebulan ini kau tak pernah menyapaku via sms, bahkan sudah hampir dua bulan kau tak menelfonku. Padahal dulu, menelfon adalah hal yang hampir tiap malam kau lakukan, setelah lelah beraktifiitas seharian selalu kau sempatkan waktumu walau hanya satu jam dalam sehari sekedar untuk mengobrol denganku, meski hanya via telfon.

Dan kini hampir dua bulan aku tak mendengar suaramu, bukan aku tak ingin mendengar suaramu, bukan juga karena aku tak ingin sekedar mengirim pesan singkat untukmu, menanyakan apakah kamu sehat ?ada apa tentang hari ini ?atau sudahkah kau makan ?hal yang sama yang ku lakukan sekitar lima bulan lalu. Tapi aku memang aku mencoba untuk menepis semua keinginan itu saat ini. 

Hal yang sudah kucoba sejak tiga bulan lalu, mencoba terbiasa tanpa pesan selamat pagi darimu, tanpa pesan 'jangan lupa makan siang', tanpa pesan 'pulang kuliah jam berapa ?', tanpa pesan 'selamat istirahat, kalau belum ngantuk sms aja' dan juga mecoba terbiasa tidak mendapat telfonmu tiap malam. Dimana sering aku tinggal tidur ketika kau menelfonku, ketika aku minta kau menceritakan tentang harimu, tapi malah aku tidur tanpa pamit. Ketika kau membacakan pesan broadcast yang baru kau dapat dan seperti biasa dengan setengah sadar aku mengatakan 'aku ngantuk..' dan sejenak kau berhenti lalu berkata 'yaudah, selamat istarahat, besok kuliah pagi kan ?'. Tanpa sedikitpun nada marah darimu, dan hampir setiap malam hal itu terulang, tapi tetap kau menganggap itu sebagai sebuah maklum.

Sungguh aku sangat merindukan saat - saat itu. Aku tak menghubungimu akhir - akhir ini memang, tapi bukan berarti aku tak merindukkanmu. Karena aku tahu, merindukanmu adalah hal yang salah, hal yang tidak seharusnya ku lakukan, bahkan kita sudah pernah membahas hal itu jauh hari sebelum akhirnya kita memutuskan untuk bersama. Tapi, logika kita kalah ketika perasaan mengusai segalanya, logika kita tak cukup berdaya untuk berpikir bahwa meneruskan kebersamaan ini adalah hal sia - sia, hal percuma yang hanya akan menyakiti satu sama lain pada akhirnya. Tapi, sekali lagi logika kita terlalu lemah untuk bisa berpikir hal demikian pada saat itu.

Dan yang aku khawatirkan pun terjadi kini, kau memutuskan untuk mengakhiri semuanya, pelan tapi pasti kau mulai jarang menghubungi, jarang menelfonku, sampai akhirnya akupun lelah berusaha untuk tetap meyakinkanmu. Saat itu bahkan sekarang masih banyak pertanyaan di otakku, apa yang selama ini kau katakan benar - benar serius ?Apa alasan yang membuatmu mengambil keputusan ini benar ?Atau kau selama ini hanya ingin 'bermain-main' denganku ?

Entah kapan semua pertanyaaku dapat terjawab, atau mungkin takkan pernah bisa kau jawab. Baik -baik kamu disana kakakku, jaga kesehatan, semoga slalu dalam lindungan Tuhan :)

-salam-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar